KARYA PERTAMA

JUDUL : Vaksin Pneumokokus Berbasis Protein (Pneumococcal Protein Vaccine, PPrV) Model Trivalent dengan Komposisi Antigen Protein PhtD, PcpA, dan PlyD1 dengan Adjuvan Aluminium dengan Metode Administrasi Secara Intranasal Sebagai Metode Vaksinasi Terbaru untuk Pencegahan Pneumonia pada Balita
LOMBA : Warmadewa Aesculapius Scientific Competition
PRESTASI : Juara 1

Vaksin Pneumokokus Berbasis Protein (Pneumococcal Protein Vaccine: PPrV) Model Trivalent dengan Komposisi Antigen Protein PhtD, PcpA, dan PlyD1 dengan Adjuvan Aluminium dengan Metode Administrasi Secara Intranasal Sebagai Metode Vaksinasi Terbaru untuk Pencegahan Pneumonia pada Balita

Eddy Zulfikar1, Farhan Naufal Arif1, Imam Hermansyah1,

Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran, Universitas Hasanuddin, Makassar

Abstrak

Latar Belakang: Pneumonia merupakan penyakit infeksi pernapasan akut yang menyerang alveoli paru-paru. Menurut WHO, Pneumonia merupakan penyebab utama kematian pada balita di seluruh dunia. Saat ini, vaksin pneumokokus konjugat (Pneumococcal Conjugate Vaccine: PCV) dijadikan sebagai vaksin utama yang direkomendasikan untuk mencegah pneumonia pada balita. Namun, nyatanya PCV masih memiliki banyak keterbatasan dikarenakan komposisi serotype-nya. Oleh karena itu, dibutuhkan inovasi terbaru terkait dengan vaksin beserta metode yang lebih efektif dalam program vaksinasi pneumonia pada balita. Tujuan: Untuk mengetahui jenis vaksin beserta metode administrasi yang efektif untuk mencegah pneumonia pada balita. Metode: Literature review ini disusun berdasarkan metode studi pustaka dengan cara mengumpulkan berbagai referensi yang valid mengenai efektivitas vaksin pneumokokus berbasis protein (PPrV) model trivalent (PhtD, PcpA, dan PlyD1) dengan adjuvan aluminium dengan metode administrasi secara intranasal sebagai metode vaksinasi terbaru untuk mencegah pneumonia pada balita. Hasil: Pada bayi (42-49 hari) maupun batita (12-13 bulan), vaksinasi dengan PPrV mampu meningkatkan konsentrasi antibodi terhadap ketiga antigen protein yang diujikan. Untuk respon antibodi yang maksimal, pada bayi diperlukan adanya penambahan adjuvan aluminium dengan tiga kali tahapan vaksinasi menggunakan formula antigen protein sebesar 25μg atau 50μg. Sedangkan untuk batita, peningkatan antibodi yang signifikan dapat diperoleh melalui vaksinasi dosis tunggal dengan formula 50 μg dengan adjuvan yang sama. Administrasi PPrV secara intranasal dipilih karena mampu menginduksi imunitas mukosa dengan respon memori sel B dan sel T dalam jangka waktu yang lebih lama, serta meminimalisir efek samping dan rasa sakit. Kesimpulan: Penggunaan PPrV model trivalent (PhtD, PcpA, dan PlyD1) dengan adjuvan aluminium dengan metode administrasi secara intranasal, mampu meningkatkan konsentrasi antibodi bayi maupun batita sebanyak dua hingga empat kali lipat, mampu menginduksi sistem imun mukosa dengan respon sel memori yang lebih lama, juga minim efek samping dan rasa sakit saat vaksinasi.

Kata kunci: administrasi intranasal, aluminium, balita, pneumonia, PPrV, trivalent